Pelajar wonokerto

My Blog List

Saturday, May 21, 2011

10 Daerah Dengan Nilai UN Terbaik

Persentase kelulusan pada satuan pendidikan SMA/MA/SMK tahun ini mengalami kenaikan lebih dari sembilan persen. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), 1.461.941 peserta ujian nasional (UN) SMA/sederajat tahun ajaran 2010/2011, 1.450.498 atau sama dengan 99.22 persen siswa lulus, sementara 11.443 atau sama dengan 0.78 persen siswa lainnya tidak lulus.

Tahun lalu, dari 1.522.195 peserta UN, sebanyak 1.368.938 atau sama dengan 89.93 persen siswa lulus, dan 153.257 atau sama dengan 10.07 persen lainnya tidak lulus. Berikut ringkasan 10 daerah dengan rata-rata nilai akhir, nilai UN dan nilai sekolah terbaik.

Data Kemdiknas memaparkan, 10 daerah dengan persentase nilai akhir terbaik tahun ini adalah Bali (8.40), Sumatera Utara (8.17), Bengkulu (8.08), Jawa Barat (8.08), Jawa Timur (8.05), Sumatera Selatan (7.96), Sulawesi Utara (7.94), Lampung (7.91), Riau (7.90), Jawa Tengah (7.89), Sulawesi Selatan (7.84).

Sementara itu, 10 daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik adalah Bali (8.31), Bengkulu (8.07), Sumatera Utara (8.05), Jawa Barat (8.03), Jawa Timur (7.86), Sumatera Selatan (7.80), Sulawesi Utara (7.66), Lampung (7.67), Riau (7.91), Jawa Tengah (7.70), Maluku (7.69). Sedangkan 10 daerah dengan rata-rata nilai sekolah terbaik adalah Bali (8.51), Bengkulu (8.35), DI Yogyakarta ( 8.35), Sulawesi Utara ( 8.340, Jawa Timur (8.32), Lampung (8.25), Sumatera Selatan (8.25), Sumatera Selatan (8.19), Jawa Tengah (8.16), Sumut (8.16), Jawa Barat (8.13).

Sumber
Share:

Saturday, May 14, 2011

JADWAL ACARA KONFERENSI ANAK CABANG V

Download Dalam Bentuk .doc klik di sini
Share:

Hukum Bom Bunuh Diri

Bunuh diri dalam Islam hukumnya adalah haram dan termasuk dalam kategori dosa besar. Akan tetapi pengorbanan jiwa sampai mati (seperti halnya Bom Bunuh Diri) dalam melawan kedhaliman dapat dibenarkan asalkan memenuhi syarat pertama Diniatkan benar-benar hanya untuk melindungi atau memperjuangkan hak-hak dasar (adh-dharuriyyat al-khams) bukan untuk mencelakakan diri (ihlakun nafs). Kedua apabila telah diyakini tidak tersedia cara lain yang lebih efektif dan lebih ringan resikonya kecuali pengorbanan jiwa tersebut. Ketiga apabila pengorbanan jiwa tersebut hanya mengambil sasaran pihak-pihak yang diyakini menjadi otak dan pelaku kedhaliman. Hukum ini merupakan hasil Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2002 di Pondok Gede berdasarkan berbagai sumber.

Jika menilik ketiga syarat di atas, maka bom Bunuh Diri yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini adalah sebuah keharaman dan tidak dibenarkan. Demikian pula bila mempertimbangkan kondisi Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, seringkali bom bunuh diri lebih merugikan umat muslim sendiri. Apalagi jika bom itu diledakkan di dalam masjid, maka secara syari’at hukumnya haram dan dila’nat Allah dan rasul-Nya. Jika berpijak pada hadits;
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Artinya: seorang muslim adalah orang bisa menjaga orang muslim lainnya dari lisannya dan tangannya.
Maka orang yang melakukan bom bunuh diri tidak dapat dikategorikan sebagai seorang muslim lagi. Karena ia telah membahayakan sesama saudara muslim. Hal ini deperkuat dengan beberapa dalil yang kesemuanya mengandaikan pengorbanan jiwa dalam sebuah peperangan melawan kafir-musyrik, bukan untuk menyakiti sesama kaum muslim. Seperti disebutkan al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an:

“Ulama berbeda pendapat tentang kenekatan seseorang di medan perang dan menyerang musuh sendirian. Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan Malikiyah berkata “tidak mengapa seseorang sendirian menghadapi musuh yang cukup banyak dalam peperangan jika ia memiliki kekuatan dan niatnya ikhlas karena Allah semata. Jika ia tidak memiliki kekuatan maka termasuk bunuh diri”

Sumber
Share:

PBNU: Kemerdekaan Israel Tidak Perlu Dirayakan

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, menyatakan bahwa rencana perayaan Hari Kemerdekaan Israel adalah tindakan yang menimbulkan kekeruhan. “Kami (PBNU, red) keberatan kalau ada acara merayakan hari lahirnya Israel. Justru di Palestina hari tersebut dianggap sebagai yaum an nuqbah atau hari tragedi,” ujar Kang Said saat menghadiri Temu Wicara Mahkamah Konsitusi dengan Muslimat NU di Hotel Aryaduta, Jakarta, 13 Mei 2011.

Menurut Kang Said, hari lahir Israel tidak perlu diperingati karena perilaku Israel yang tidak manusiawi. “Kita selalu menyaksikan bagaimana Israel menindas bangsa Palestina. Dan lagi, Israel sudah berulangkali melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB. Kalau PBB saja sudah tidak digubris, mengapa hari lahirnya diperingati,” papar Kang Said.

Kang Said juga meminta agar pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan acara peringatan HUT Israel itu. “Karena itu hanya akan memancing persoalan. Dan PBNU tidak respek atas acara itu. Kalau ternyata masih diberi izin dan akhirnya timbul reaksi yang tidak kita harapkan itu justru akan menambah pekerjaan saja,” lanjut Kang Said.

Meski agama Yahudi disebut dan diakui dalam al Quran, Kang Said tetap menyatakan bahwa peringatan HUT Israel tidak perlu dirayakan. “Ingat, kami tidak anti agama Yahudi, agama yang diakui al Quran. Tapi kami anti Zionis,” pungkas Kang Said.

Sumber
Share:

Sunday, May 8, 2011

Bahasa Indonesia Jadi Bahasa ASEAN?

Wacana agar mendorong bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN kembali mengemuka dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara itu tahun ini.

Melalui sejumlah wawancara terpisah di beberapa tempat, Jumat (6/5/2011), Antara menanyakan tentang harapan masyarakat dalam momentum keketuaan ASEAN Indonesia tahun ini, terutama tentang perwujudan semboyan "satu visi, satu identitas, dan satu komunitas".

"Indonesia kan sedang menjadi Ketua ASEAN tahun ini, makanya harus bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk mengusung bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN," kata seorang pensiunan pegawai negeri sipil, Mahmud Rustam (62), ketika diwawancarai oleh Antara, Jumat.

Mahmud mengakui akan adanya kendala dalam menerapkan bahasa Indonesia sebagai identitas ASEAN itu karena perbedaan latar belakang sosial dan budaya masyarakat ASEAN. Namun, hal itu tetap harus diupayakan untuk mewujudkan hubungan antarmasyarakat ASEAN setelah terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.

Mahmud yang mengaku belum pernah mendengar konsep Komunitas ASEAN 2015 itu berharap, kelompok regional Asia Tenggara itu akan lebih mengutamakan kerja sama ekonomi daripada dua pilar lainnya, sosial budaya serta politik, pertahanan, dan keamanan.

"Saat ini yang terpenting adalah menyejahterakan rakyat melalui ekonomi yang kuat. Keamanan dan sosial itu bisa menyusul," kata Mahmud.

Senada dengan harapan itu, seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di Jakarta, Yuwono Ario (24), mengatakan bahwa bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa ASEAN karena digunakan oleh lebih dari sepertiga penduduk ASEAN.

"Kalau dilihat dari jumlah populasinya, Indonesia kan populasinya lebih dari sepertiga total populasi negara-negara ASEAN," kata Yuwono ketika dijumpai seusai bekerja, Jumat.

Yuwono menyarankan ASEAN harus menggeser peran ke arah ekonomi sehingga mampu menghadapi geliat raksasa ekonomi China yang melakukan penetrasi secara besar-besaran, terutama ke wilayah Asia Tenggara.

"Sebaiknya peran ASEAN bergeser ke arah ekonomi, bersatu untuk menghadapi gempuran dari China dan melakukan pemerataan kesejahteraan terhadap seluruh negara anggotanya," kata Yuwono.

Seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta, Dinda Saraswati (29), juga setuju jika bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN karena akan menambah kebanggaan tersendiri bagi rakyat Indonesia.

"Mungkin dengan bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN, warga negaranya bisa lebih menghargai bahasa Indonesia, dan kita jadi bangga menggunakan bahasa yang dipakai di seluruh ASEAN," katanya.

Dinda juga mengemukakan pendapat tentang perlunya menciptakan satu mata uang bersama bagi negara ASEAN sehingga setiap negara memiliki standar yang sama.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie sempat mengusulkan agar bahasa Indonesia dijadikan salah satu bahasa resmi yang digunakan dalam pertemuan-pertemuan negara ASEAN dalam sesi pleno pertama Sidang Umum ke-31 ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Hanoi, Vietnam, 21 September 2010.

"Penggunaan bahasa Indonesia akan membuka kesempatan kepada bahasa lain untuk menjadi bahasa kerja dalam AIPA," kata Marzuki pada saat itu.

Usul mengenai penggunaan bahasa Indonesia dalam sidang-sidang AIPA telah mengemuka sejak awal kedatangan delegasi DPR RI ke Hanoi, Vietnam.

Pada 20 September lalu, dalam pertemuan Komite Eksekutif AIPA, Indonesia telah menyampaikan usulannya untuk mengamandemen Statuta AIPA agar bahasa Indonesia masuk dalam bahasa kerja AIPA selain bahasa Inggris.

Namun, seorang mahasiswa S2 salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, Arisman Muhammad (24), cenderung melihat tidak adanya sebuah identitas yang dapat menunjang integritas, termasuk satu bahasa tunggal. Ini karena budaya negara anggota ASEAN memiliki karakter yang unik.

"Secara ekonomi, Malaysia dan Singapura jauh lebih unggul. Dari segi pandangan politik, ada negara yang memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga identitas tunggal akan sulit tercapai," katanya.

Pada sejarahnya, Indonesia sendiri menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional guna mempersatukan beraneka bahasa yang berasal dari beragam suku bangsa di seluruh Tanah Air.

Menurut seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia, Andri Hadi, saat ini ada 45 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, antara lain Australia, Amerika, Kanada, dan Vietnam.

Mengambil contoh Australia, pejabat itu menjelaskan, bahkan di Australia bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat.

"Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia sehingga anak-anak kelas VI sekolah dasar sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia," kata Andri beberapa waktu lalu.

Sementara itu, di Vietnam, Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City telah mengumumkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007.

"Bahasa Indonesia sejajar dengan bahasa Inggris, Perancis, dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad, beberapa waktu setelah peresmian itu. Vietnam merupakan anggota ASEAN pertama yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua di negaranya.

Momentum Indonesia sebagai Ketua ASEAN terbukti menyimpan harapan sebagian masyarakat agar dapat mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN.

Layakkah bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN?
Share:

Saturday, May 7, 2011

Target NII, 2014 Merebut Kekuasaan

Kelompok Negara Islam Indonesia menargetkan, tahun 2014 mereka mampu merebut kekuasaan negara lewat anggota-anggotanya yang memiliki posisi sebagai pengambil keputusan.

Oleh karena itu, seluruh kekuatan gerakan dipusatkan untuk menggalang dana kegiatan pendidikan yang berkualitas. Diharapkan lewat proses pendidikan yang berkualitas ini kader-kader NII mampu merebut posisi-posisi strategis.

Demikian disampaikan Sukanto (34), Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Centre, Jumat (6/5/2011). Ia menyampaikan hal itu sebelum mengarahkan sejumlah mahasiswa Universitas Dharma Persada, Kelapa Dua, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sukanto mengakui, target menguasai negara tersendat karena ada sekelompok elite NII yang mengambil jalan pintas lewat politik.

"Tahun 2009, ada lima anggota NII yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR lewat Partai Republikan. Tapi niat mereka menjadi wakil rakyat gagal karena partai mereka terdepak oleh ketentuan electoral threshold. Kelima elite NII yang mewakili lima daerah pemilihan ini antara lain mewakili daerah pemilihan Tangerang dan Bogor," papar Sukanto.

Ia mengatakan, NII di bawah kepemimpinan Panji Gumilang alias Samsul Alam alias Abu Totok mengubah haluan NII dari gerakan radikal militer menjadi gerakan pendidikan.

"Oleh karena itu, NII di bawah Panji Gumilang dengan segala cara mengumpulkan dana untuk membiayai kegiatan pendidikan yang berkualitas. Buktinya, hampir seluruh aliran dana mengucur ke Pondok Pesantrean Al-Zaytun," ungkapnya.

NII berharap pondok pesantren ini kelak melahirkan tokoh-tokoh besar NII yang memiliki latar belakang prestasi pendidikan akademis yang tinggi. Dengan demikian, peluang para tokoh ini untuk merebut jabatan strategis di pemerintahan maupun dunia usaha kian terbuka. Sukanto mengatakan, dana NII diperoleh dari iuran anggota, kegiatan mencari sumbangan, dan mencuri.

"Jumlah anggota NII di Jakarta saja 151.000 orang. Mereka bekerja mencari sumbangan secara bergantian, hampir 24 jam tanpa henti. Anak-anak pondok pun dikerahkan mengemis di SPBU-SPBU, sementara kader lainnya mencuri komputer jinjing di lingkungan kampus. Bayangkan, dalam waktu dua bulan mereka mampu mencuri 50 komputer jinjing, yang mereka jual dengan harga Rp 5 juta," ungkap Sukanto.

Rekrutmen

Ia menjelaskan, NII mengutamakan rekrutmen anggota di lingkungan siswa SMA dan sederajat yang duduk di kelas III. Mereka dipersiapkan membangun jaringan di kampus-kampus saat mereka menjadi mahasiswa.

"Jadi, jangan heran kalau kasus-kasus NII di lingkungan kampus meledak justru di Malang, Jawa Timur, Provinsi Riau, dan Aceh Barat. Saat terungkap, terbukti bahwa para mahasiswa itu dikader saat duduk di kelas III SMA atau sederajat di Jakarta. Dari Jakarta, mereka menyebar ke penjuru Tanah Air lewat kampus-kampus," ucap Sukanto.

Menurut dia, para kader muda NII diawasi ketat oleh senior-senior dan jaringan di atasnya. Hal itu sudah berlangsung sejak proses rekrutmen dilakukan. "Kalau mereka menghilang, bakal dicari dan diteror sampai mereka kembali ke pangkuan NII," tandasnya.

Agar lingkungan kampus terhindar dari pengaruh jaringan NII, Sukanto mengusulkan supaya para pengelola kampus memberikan sanksi dan peringatan yang jelas mengenai larangan terlibat NII. Sebab, kegiatan NII inkonstitusional. "Mahasiswa juga harus bersikap kritis dan tegas menolak terlibat NII," tandas Sukanto.

Ia mengatakan, sampai sekarang, laporan orang hilang yang diduga diculik NII sebanyak 80 orang, sementara yang sudah teridentifikasi baru 35 orang. Ia mengaku pernah menjadi pemimpin NII setingkat kecamatan di Tebet, Jakarta Selatan, tahun 1996-2001.
Share:

Terlalu Dini Gunakan Tes Minat dan Bakat

Tes minat dan bakat bisa dilakukan untuk menilai potensi belajar dan keminatan para siswa agar lebih memahami potensinya dalam menentukan jurusan perkuliahan. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya faktor untuk meneropong bakat dan minat siswa.

Tes semacam itu bukan satu-satunya jalan, karena masih ada beberapa banyak faktor lain seperti tes IQ, spiritual intelegence test, emotional intelegent test dan lain-lainnya.

"Jika sudah punya kesukaan terhadap suatu bidang itu sudah poin plus buat diri kita sendiri,"

Zaman dahulu dikenal dengan pola tes IQ untuk menggambarkan potensi diri seorang anak. , Jika IQ mencapai di atas 140 anak sudah dianggap pintar. Namun, seiring perkembangan zaman pola itu sudah berubah. Tidak ada penelitian yang menggatakan jika IQ anak di atas 140 itu otomatis adalah anak pintar. Zaman sekarang sudah banyak vitamin yang menjamur, yang katanya bisa mencerdaskan siswanya, namun belum ada pembuktian soal itu.

Pendekatan guru

Vitamin tidak bisa dijadikan patokan. Alangkah baiknya jika pola yang diterapkan adalah menjadikan seorang guru dekat atau mau melakukan pendekatan kepada siswanya. Pendekatan ini terutama dilakukan oleh pihak sekolah. "Guru harus bisa memahami siswanya, jangan sebaliknya, siswa yang memahami gurunya," Tidak ada siswa yang bodoh. Yang betul siswa itu belum bertemu dengan guru yang pintar.

Masih terlalu dini tes bakat dan minat dijadikan pola pendekatan untuk menentukan jurusan yang akan diambil siswa untuk melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi. Lihat dulu orientasi atau kecenderungan si anak waktu kecil.
Share:

Sukses Itu karena Bakat dan Minat

Orangtua terkadang bingung memilih perguruan tinggi bagi putra-putrinya. Apakah harus mendahulukan bakat dan minat anak atau justru prestasi akademik terlebih dahulu?

Direktur ProVisi Education Romy Cahyadi menilai, kebingungan para orangtua itu adalah hal wajar. Menurut dia, setiap orangtua pasti menginginkan anaknya sukses. Namun, dilihat dari sisi psikologis anak, lanjut Romy, minat dan bakat anak sebaiknya tetap menjadi titik tolak untuk memilih perguruan tinggi.

"Semua orang yang sukses dalam bidang apa pun, itu bukan karena dia sempurna dalam segala hal. Semua orang yang sukses di dunia ini karena mereka telah menonjolkan keunggulannya. Dan, itu pasti berhubungan dengan bakat dan minat," ujar Romy ketika ditemui Kompas.com di Jakarta, Rabu (27/4/2011) pekan lalu.

Romy menuturkan, orangtua juga harus memberikan ruang untuk memberikan kesempatan bagi anak. Sebab, menurut Romy, ke depan akan muncul peluang karier, jenis pekerjaan, dan bidang-bidang baru mengiringi perkembangan zaman. Ketika terjadi hal seperti itu, sudah pasti pengetahuan anak akan lebih baik dari orangtuanya.

"Karena selalu muncul bidang-bidang baru yang sama sekali orangtua tidak paham akan hal itu," kata Romy.

Maju Selangkah

Selain bingung dalam menentukan perguruan tinggi, tak jarang juga terjadi perbedaan pandangan antara anak dan orangtua. Ketika hal seperti ini terjadi, lanjut Romy, orangtua dan anak dianjurkan memikirkan pemecahan dengan fokus pemikiran yang maju selangkah ke tengah-tengah persoalan secara bersamaan.

Menurut Romy, ketika anak ingin memilih bidang yang orangtuanya tidak setuju, itu wajar. Namun, agar perbedaan pendapat dapat terselesaikan, anak juga semestinya bertindak proaktif untuk menjawab kekhawatiran orangtua.

"Tunjukkan, setidaknya riset kecil, entah browsing di internet atau tanya ke teman, yang bisa menunjukkan kepada orangtua bahwa bidang yang dipilihnya itu menjanjikan," kata Romy.
Share:

Mendiknas Bakal Rombak Kurikulum

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Kementerian Pendidikan Nasional berencana merombak kurikulum beberapa mata pelajaran pada pendidikan dasar dan menengah.

"Belum saya setujui. Sekarang ini kurikulum dikembangkan oleh pihak sekolah, ke depan akan kita tata lagi. Beberapa materi dipegang secara nasional, sementara yang lain diserahkan kepada daerah, provinsi, atau kabupaten kota," kata Nuh, Jumat (6/5/2011) siang di Jakarta.

Nuh mengatakan, beberapa mata pelajaran yang akan dikendalikan secara nasional adalah Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

"Kenapa materi ini kita pegang secara nasional? Karena ini yang menjadi perekat, yang membuat kita punya ikatan secara nasional. Kalau Matematika, itu logika nasionalnya. Jadi, kita tidak boleh membedakan antara Matematika di Jakarta dan di daerah sehingga kelima materi itu harus dibuat dalam konteks universal keindonesiaan," ujar Nuh.

Sementara materi yang terkait dengan muatan lokal, lanjutnya, seperti kesenian dan budaya, sekolah tetap memiliki wewenang penuh menyusun kurikulum tersebut. Masalah-masalah yang terkait dengan seni budaya dan muatan lokal itu diserahkan kepada sekolah atau daerah.

"Ada juga yang digabung dalam tingkat provinsi, seperti Bahasa Inggris, akan disesuaikan antara pusat dan daerah," kata Nuh.

Nuh mengungkapkan, jika dahulu ada kurikulum yang diserahkan dan dikembangkan oleh sekolah, idenya akan bagus, bisa memberikan kebebasan dan penguatan di tingkat sekolah. Hanya saja, perlu ada sesuatu yang dicermati secara nasional.

"Yang akan kita rombak pertama kali adalah di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jika mahasiswa relatif mudah, yang penting kurikulum secara nasional ini kita tata kembali. Ada yang mengacu pada standar nasional maupun standar daerah," ujarnya.
Share:

Thursday, May 5, 2011

PERSYARATAN DAN KETENTUAN PESERTA KONFERANCAB 2011

Untuk kelancaran dalam pelaksanaan Konferensi Anak Cabang V IPNU IPPNU Kecamatan Wonokerto maka dengan ini kami beritahukan tentang persyaratan dan ketentuan bagi peserta.


Adapun persyaratannya adalah sebagai berikut :
  • Diutamakan anggota IPNU-IPPNU yang Pernah Mengikuti Pengkaderan
  • Umur maksimal 25 Th / belum menikah
  • Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan
  • Memakai baju Batik, celana hitam ( IPNU ), rok hitam (IPPNU)
  • Tiap ranting mengirimkan peserta 3 IPNU dan 3 IPPNU
  • Tidak diperkenankan memakai jeans dan sejenisnya
  • Membayar kontribusi peserta sebesar Rp. 10.000,- per orang
  • Membawa alat tulis menulis, peralatan sholat dan pakaian olahraga
  • Bersedia hadir di arena paling lambat hari Ahad Tanggal 15 Mei 2011 sebelum jam 07.00 WIB
  • Bersedia menaati segala peraturan yang telah ditentukan bersama.


PANITIA
Share:

Total Pengunjung