I’tiqad/Firqah/Faham/Golongan Dalam Islam
Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (faham/golongan) dalam
lingkungan umat, dimana satu dengan lainnya bertentangan faham secara tajam dan
sulit untuk didamaikan, apalagi disatukan.
Hal ini telah menjadi fakta sejarah yang tidak dapat dirubah lagi dan sudah
menjadi pengetahuan yang terdapat dalam buku-buku agama terutama buku-buku
Ushuluddin.
Dalam buku-buku Ushuluddin itu terdapat beberapa nama firqah, antara lain; Syi’ah,
Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni),
Mujassimah, Bahaiyah, Ahmadiyah, Wahabiyah, Ibnu Taimiyah dan lain-lain.
Hal ini tidak terlalu mengherankan karena Nabi Muhammad SAW semasa hidup telah
mengabarkan hal ini.
Hadits-hadits yang menerangkan tentang adanya firqah-firqah ini antara lain :
1. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Bahwasanya siapa yang hidup (lama) di antara kamu niscaya akan melihat
perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan
Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah
dengan gerahammu” (HR Abu Daud)
2. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Akan ada di lingkungan ummatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa
dirinya adalah Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudahku”
(HR Tarmidzi)
3. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka
banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya firman-firman Allah
SWT yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka.
Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau
orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka” (HR Bukhari)
Jelas dalam hadits ini bahwa akan ada sekumpulan orang-orang muda yang sok aksi
mengeluarkan fatwa-fatwa agama berdasarkan Al Quran dan hadits, tetapi keimanan
mereka tipis sekali dan bahkan keimanan itu keluar dari dirinya secepat anak
panah meninggalkan busurnya. Maksudnya adalah bahwa mereka banyak berbicara
tentang Al-Quran dan hadits, tetapi mereka tidak melaksanakan tuntunan agama
seperti shalat, puasa dll.
4. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Ada dua firqah dari ummatku yang pada hakekatnya mereka tidak bersangkut paut
dengan Islam, yaitu kaum Murjiah dan kaum Qadariyah” (HR Tarmidzi)
Firqah Murjiah dan Qadariyah tak ada hubungannya dengan Islam, kata Nabi
Muhammad SAW. Na’udzubillah!
5. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
Dari Hudzaifah Rda., beliau berkata, Bersabda Rasulullah SAW : “Bagi tiap-tiap
ummat ada majusinya, dan majusi ummatku adalah orang yang mengingkari takdir.
Kalau mereka mati jangan dihadiri pemakamannya dan kalau mereka sakit jangan
dijenguk. Mereka adalah kelompok dajjal. Memang Tuhan berhak memasukkan mereka
ke dalam kelompok dajjal” (HR Abu Daud)
6. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
Dari Abi Hurairah Rda., beliau berkata, Bersabda Rasulullah SAW : “Telah
berfirqah-firqah orang Yahudi atas 71 firqah dan orang Nashara seperti itu pula
dan akan berfirqah ummatku atas 73 firqah” (HR Tarmidzi)
7. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan
akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu”.
Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya, “siapakah yang satu itu, Ya
Rasulullah?” Nabi menjawab, “Yang satu itu adalah orang yang berpegang
(ber-i’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqad-ku) dan pegangan sahabat-sahabatku”
(HR Tarmidzi)
8. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah ummatku
sebanyak 73 firqah, yang satu masuk surga dan yang lain masuk neraka”. Bertanya
para sahabat, “siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu, Ya Rasulullah?”
Nabi menjawab, “Ahlussunnah wal Jama’ah” (HR Thabrani)
Hadits yang mengandung arti dan maksud seperti ini juga terdapat dalam buku Al
Milal wan Nihal karangan Syahrastani (wafat 1127M/548H)
9. Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Akan ada segolongan ummatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan
mereka tetap atas kebenaran itu” (HR Bukhari)
Melihat hadits-hadits yang sahih ini dapat diambil kesimpulan :
1. Nabi Muhammad SAW mengabarkan sesuatu yang akan terjadi dalam lingkungan
ummat Islam secara mu’jizat, yaitu mengabarkan hal-hal yang akan terjadi. Kabar
ini tentu Beliau terima dari Allah SWT.
2. Sesudah Nabi wafat akan ada perselisihan faham yang banyak, sampai 73 faham
(i’tiqad/firqah).
3. Ada segolongan orang-orang muda pada akhir zaman yang sok aksi mengeluarkan
dalil-dalil dari Al-Quran, tetapi keimanan mereka tidak melewati
kerongkongannya.
4. Ada dua golongan yang tidak bersangkut paut dengan Islam, yaitu faham
Murjiah dan Qadariyah.
5. Ada 30 orang pembohong yang akan mendakwakan bahwa dirinya adalah Nabi,
padahal tidak ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Dan ada orang-orang
Khawarij yang paling jahat.
6. Di antara 73 golongan itu ada satu yang benar yaitu golongan Ahlussunnah wal
Jama’ah yang selalu berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah
Rasyidin.
7. Mereka ini akan selalu mempertahankan kebenaran i’tiqad-nya sampai hari
kiamat.
Melihat kenyataan sekarang, dan dengan meneliti sejarah perkembangan Islam
sejak abad pertama Hijriyah hingga sekarang, apa yang disampaikan Nabi Muhammad
SAW telah terjadi dengan nyata.
Di dalam buku Bugyatul Mustarsyidin karangan Mufti Sheikh Sayid
Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, yang terkenal dengan gelar
Ba’Alawi, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Kairo (Mesir) tahun 1960M/1381H,
halaman 398, bahwa 72 firqah yang sesat itu bertumpu pada 7 firqah yaitu :
- Faham
Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina Ali bin Abi
Thalib. Mereka tidak mengakui Khalifah Rasyidin yang lain seperti Khalifah
Abu Bakar as-Shiddiq, Khalifah Umar Ibnu Khattab dan Khalifah Utsman bin
Affan. Kaum Syi’ah terpecah menjadi 22 aliran, termasuk di
antaranya adalah Kaum Bahaiyah dan Kaum Ahmadiyah Qad-yan.
- Faham
Khawarij, yaitu kaum kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina Ali
bin Abi Thalib, bahkan di antaranya ada yang mengkafirkan Saidina Ali.
Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang yang membuat dosa besar menjadi
kafir. Kaum Khawarij terpecah menjadi 20 aliran.
- Faham
Mu’tazilah, yaitu kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat,
bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, Tuhan tidak bisa dilihat
dengan mata dalam surga, orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di
antara dua tempat, dan mi’raj Nabi Muhammad SAW hanya dengan roh saja,
dll. Kaum Mu’tazilah terpecah menjadi 20 aliran, termasuk di
antaranya adalah Kaum Qadariyah.
- Faham
Murjiah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa membuat maksiat
(kedurhakaan) tidak memberi mudharat jika sudah beriman, sebaliknya
membuat kebaikan dan kebajikan tidak bermanfaat jika kafir. Kaum ini
terpecah menjadi 5 aliran.
- Faham
Najariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah
makhluk, yaitu dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat
Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah terpecah menjadi 3 aliran.
- Faham
Jabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa manusia “majbur”, artinya
tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini
hanya 1 aliran.
- Faham
Musyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan
dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik dan turun
tangga dll. Kaum ini hanya 1 aliran saja. Kaum Ibnu Taimiyah
termasuk dalam golongan ini, dan Kaum Wahabi adalah termasuk kaum
pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.
Jika ditambah dengan 1 aliran lagi yaitu Ahlussunnah wal
Jama’ah maka menjadi 73 firqah, seperti yang dijelaskan oleh Nabi
Muhammad SAW dalam hadits Imam Tarmidzi.
Sejarah Timbulnya Firqah Dalam Islam
I’tiqad Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pada masa hidup Nabi Muhammad SAW semuanya mudah dan gampang, karena segala
sesuatu dapat ditanyakan kepada Beliau.
Para sahabat berkumpul di hadapan Beliau untuk mendengarkan wahyu Ilahi yang
turun sewaktu-waktu, ada di antara mereka yang menuliskannya dan ada pula yang
menghafalnya.
Allah SWT berfirman, kata Nabi, sebagai berikut :
“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha
Pengasih dan Penyayang” (QS Al-Baqarah:163)
Para sahabat Nabi karena mereka orang arab, sedang Al-Quran dalam bahasa arab
pula, mereka dapat menangkap isi dan arti yang hakiki dari ayat Al-Quran itu
sehingga mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan itu Esa, sifatnya Pengasih
dan Penyayang. Mereka tidak bertanya lagi.
Allah SWT berfirman :
“Katakanlah (hai Muhammad): Tuhan tunggal, Tuhan tempat meminta, Ia tidak
mempunyai anak, Ia tidak dilahirkan oleh Ibu-Bapak dan tidak
seorangpun/sesuatupun yang menyerupai-Nya” (QS Al-Ikhlash:1-4)
Para sahabat Nabi yang mendengar dan membaca surat ini lantas yakin, bahwa
Tuhan namanya Allah SWT, Ia Tunggal (Esa) bukan dua atau tiga. Ia bukan bapak,
Ia bukan anak seseorang/sesuatu dan tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.
Allah SWT berfirman :
“Tiada suatu juga yang menyerupai-Nya, dan Ia Mendengar lagi Melihat” (QS
As-Syura:11)
Nabi dan para sahabat mengerti betul tujuan ayat ini, bahwa tidak ada sesuatu
juga yang menyerupai Tuhan dan Ia tidak menyerupai sesuatu, Ia bersifat
Mendengar dan Melihat, semuanya didengar dan dilihat oleh Tuhan.
Ia tidak boleh diserupakan dengan seorang Raja yang duduk di atas singgasana.
Ia tidak boleh diserupakan dengan malaikat, jin, tidak boleh diserupakan dengan
seorang kepala negara, tidak boleh diserupakan dengan siapapun juga.
Allah SWT berfirman :
“Sekalian yang ada akan lenyap, yang kekal hanya Zat Tuhanmu, yang mempunyai
Kebesaran dan Kemuliaan” (QS Ar-Rahman:26-27)
Yakinlah sahabat-sahabat Nabi, bahwa semuanya akan lenyap dan yang kekal hanya
Tuhan yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.
Walaupun dalam ayat ini dikatakan “wajha” yang dalam bahasa arab artinya
“muka”, tetapi para sahabat tidak repot soal itu, karena mereka tahu bahwa yang
dimaksudkan dengan “wajha” tersebut adalah “Zat-Nya” sesuai dengan sastra arab
dimana biasa dipakai perkataan yang menunjukkan juzu’ tetapi yang dimaksud
adalah kul-nya, yaitu keseluruhannya.
Allah SWT berfirman :
“Dan bahwasanya Allah SWT tidak berkehendak kepada sekalian alam ini” (QS
Al-Ankabut:6)
Mengertilah Nabi dan sahabat-sahabat bahwa Tuhan berdiri sendiri, tidak
membutuhkan pertolongan siapapun juga, karena Ia paling kuasa, paling kuat,
paling gagah dan bisa membuat apa saja yang dikehendaki-Nya seorang diri, tidak
membutuhkan bantuan siapapun.
Singkatnya tentang Allah SWT dan sifat-sifat-Nya semuanya diterangkan dalam
Al-Quran dalam berbagai surat dan yang ayat yang berlain-lainan.
Jika ada yang tidak difahami, para sahabat bertanya kepada Nabi yang langsung
dijawab dan diterangkan Nabi arti yang hakiki dari ayat tersebut sehingga tidak
ada perselisihan faham.
Karena itu tidak firqah-firqah pada masa hidup Nabi Muhammad SAW dan tidak ada
perbedaan tafsir dari Al-Quran. Mereka bersatu.
Begitu juga tentang malaikat, Tuhan menerangkan dalam Al-Quran secukupnya
hingga tidak ada keraguan.
Allah SWT berfirman :
“Dan mengajarkan Allah SWT kepada Adam sekalian nama-nama, kemudian ditanyakan
kepada Malaikat apa nama-nama itu, kalau kamu benar” (QS Al-Baqarah:31)
Maka tahulah para sahabat bahwa ada satu makhluk selain manusia yang bernama
malaikat.
Keadaan malaikat diterangkan sebagai berikut :
“Mereka tidak mendurhakai Tuhan kalau disuruh dan mereka mengerjakan sekalian
suruhan Tuhan” (QS At-Tahrim:6)
Malaikat itu adalah makhluk yang patuh dan taat kepada Tuhan.
Allah SWT berfirman :
“Katakanlah (hai Muhammad): Barangsiapa memusuhi Jibril (maka ia memusuhi
Tuhan) karena Jibril itu menurunkan Al-Quran pada hatimu dengan izin Tuhan,
untuk membenarkan kitab-kitab Tuhan yang terdahulu” (QS Al-Baqarah:97)
Fahamlah para sahabat bahwa Al-Quran diturunkan kepada Nabi oleh Tuhan dengan
perantaraan malaikat Jibril.
Demikian pula tentang Rasul-Rasul Allah SWT dari dulu hingga Nabi Muhammad SAW,
tentang Kitab-Kitab Suci seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran, begitu pula
tentang akhirat, surga dan neraka, tentang Qadla dan Qadar Ilahi, seluruhnya
diterangkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi dalam berbagai kesempatan.
Seluruh sahabat memahami seluruhnya sefaham mungkin dan seyakin-yakinnya, tidak
ada perselisihan faham.
Timbulnya Perselisihan Faham Setelah Nabi Muhammad SAW wafat
Yang teramat mulia Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 02 Rabi’ul Awwal 11H
atau 08 Juni 632M.
Pada hari Beliau wafat sekelompok Kaum Anshar (sahabat Nabi yang berasal dari
Madinah) berkumpul di satu tempat yang bernama Saqifah Bani Sa’idah untuk
mencari Khalifah (pemimpin pengganti Nabi). Kaum Anshar ini dipimpin oleh Sa’ad
bin Ubadah (Ketua Umum Anshar dari suku Khazraj).
Mendengar hal ini Kaum Muhajirin (sahabat Nabi yang berasal dari Makkah dan
pindah ke Madinah) datang ke Saqifah dengan dipimpin oleh Saidina Abu Bakar
as-Shiddiq Rda.
Setelah terjadi perdebatan yang cukup sengit dimana Kaum Anshar mencalonkan
Sa’ad bin Ubaidah sebagai calon Khalifah dan Kaum Muhajirin mengajukan Abu
Bakar atau Umar bin Khattab sebagai calon Khalifah, akhirnya semua sepakat
untuk mengangkat sahabat yang paling utama yaitu Saidina Abu Bakar as-Shiddiq
sebagai Khalifah pengganti Nabi.
Dalam rapat itu tidak ada seorangpun yang mengemukakan Saidina Ali bin Abi
Thalib sebagai Khalifah. Faham Syi’ah belum ada ketika itu, yang ada hanya Kaum
Anshar dan Muhajirin, tetapi perselisihan tersebut tidak menimbulkan firqah
dalam Ushuluddin karena perselisihan tersebut telah selesai dengan diangkatnya
Saidina Abu Bakar sebagai Khalifah secara aklamasi.
Pada tahun 30H timbul Faham Syi’ah yang disulut oleh Abdullah bin Saba’
yang beroposisi terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Abdullah bin Saba’ adalah
seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ketika ia datang ke Madinah
tidak terlalu mendapat penghargaan dari Khalifah dan dari umat Islam lainnya
sehingga ia menjadi jengkel.
Setelah terjadi Perang Siffin, perang saudara sesama Islam antara tentara
Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan tentara Mu’awiyah bin Abu Sofyan (Gubernur
Syria) pada tahun 37H timbul pula Faham Khawarij, yaitu orang-orang yang keluar
dari Saidina Ali dan Mu’awiyah.
Pada awal abad kedua Hijriah timbul pula Faham Mu’tazilah yaitu kaum
yang dipimpin oleh Washil bin ‘Atha’ (80-113H) dan Umar bin Ubeid (wafat 145H).
Kaum Mu’tazilah ini mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil, berlainan dengan
i’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
Di antara fatwa yang ganjil tersebut adalah adanya “manzilah bainal
manzilatein” yaitu ada tempat di antara dua tempat neraka dan surga, bahwa
Tuhan tidak mempunyai sifat, Al-Quran adalah makhluk, mi’raj Nabi hanya dengan
roh saja, bahwa pertimbangan akal lebih didahulukan dari hadits Nabi, bahwa surga
dan neraka akan lenyap dsb.
Kemudian timbul Faham Qadariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia
diciptakan oleh manusia sendiri, tidak bersangkut paut dengan Tuhan. Hak
mencipta telah diberikan Tuhan kepada manusia sehingga Tuhan tidak tahu dan
tidak peduli lagi akan apa yang diperbuat oleh manusia.
Kemudian timbul pula Faham Jabariyah yang mengatakan bahwa sekalian yang
terjadi adalah dari Tuhan, manusia tidak memiliki daya apa-apa, tidak ada usaha
dan tidak ada ikhtiar.
Selanjutnya timbul Faham Mujassimah, yaitu faham yang menyerupakan Tuhan
dengan makhluk, punya tangan dan kaki, duduk di atas kursi, turun tangga
seperti manusia, Tuhan adalah cahaya seperti lampu dan sebagainya.
Dan timbul pula faham-faham yang keliru tentang tawassul dan washilah, tentang
ziarah dan istighatsah dari Ibnu Taimiyah yang semuanya mengacaukan dunia Islam
dan kaum muslimin.
Munculnya I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah
Sebagai reaksi dari timbulnya firqah-firqah yang sesat tadi, maka pada akhir
abad ketiga Hijriyah muncullah golongan yang yang bernama Ahlussunnah wal
Jama’ah yang dikepalai oleh dua orang ulama besar dalam Ushuluddin yaitu Sheikh
Abu Hasan Ali al-Asy’ari dan Sheikh Abu Mansur al-Maturidi.
Perkataan Ahlussunnah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menjadi Ahlussunnah
saja atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asy’ari atau Asya’irah,
dikaitkan kepada guru besarnya yang pertama yaitu Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari.
Nama lengkap Abu Hasan adalah Abu Hasan ‘Ali bin Ismail, bin Abi Basyar,
Ishaq bin Salim, bin Ismail, bin Abdillah, bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah,
bin Abi Musa al-Asy’ari. Abi Musa al-Asy’ari adalah seorang sahabat Nabi
yang terkenal.
Abu Hasan lahir di Basrah (Iraq) pada tahun 260H yaitu 55 tahun setelah
wafatnya Imam Syafi’i Rda., dan wafat di Basrah pada tahun 324H.
Beliau pada mulanya adalah murid dari bapak tirinya, seorang ulama besar kaum
Mu’tazilah yaitu Sheikh Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahab al-Jabai yang wafat
pada tahun 303H, namun kemudian beliau tobat dan keluar dari golongan
Mu’tazilah tersebut (jangan keliru, Sheikh Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahab
al-Jabai ini bukanlah Muhammad bin Abdul Wahab, pembangun Faham Wahabi di Nejdi
tahun 1115H-1206H).
Pada masa itu (abad ketiga Hijriyah) banyak sekali ulama-ulama Mu’tazilah yang
mengajar di kota-kota Iraq termasuk Basrah, Bagdad dan Kufah. Pada masa itu
memang merupakan masa gemilang bagi Faham Mu’tazilah karena didukung oleh
pemerintahan yang berkuasa, dimana sekurang-kurangnya ada tiga kepala
pemerintahan (Khalifah) yang memberi dukungan yaitu Ma’mun bin Harun ar-Rasyid
(198-218H), al-Mu’tashim (218-227H) dan al-Watsiq (227-232H).
Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan
fitnah “Al-Quran adalah makhluk” yang sampai mengorbankan beribu-ribu ulama
yang tidak sefaham dengan Mu’tazilah.
Abu Hasan muda melihat bahwa dalam faham Mu’tazilah ini banyak terdapat
kesalahan besar yang bertentangan dengan i’tiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad
SAW serta sahabat-sahabat, serta banyak yang bertentangan dengan Al-Quran dan
Hadits.
Karena itu beliau keluar dari golongan Mu’tazilah dan tobat kepada Tuhan atas
kesalahan-kesalahannya yang lalu. Bukan itu saja, beliau tampil di muka untuk
melawan dan mengalahkan Faham Mu’tazilah yang sesat itu.
Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Masjid Basrah yang besar dan
mengucapkan pidato dengan suara lantang dan berapi-api di hadapan kaum muslimin
yang sedang berkumpul.
Isi pidatonya adalah sebagai berikut :
“Saudara-saudara kaum muslimin yang terhormat!
Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui
maka saya adalah Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari, anak dari Ismail bin Abi Basyar.
Dulu saya berpendapat bahwa Al-Quran itu adalah makhluk, bahwa Tuhan Allah SWT
tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat, dan bahwa manusia menjadikan
(menciptakan) perbuatannya sendiri, serupa dengan Faham Mu’tazilah.
Nah, sekarang saya menyatakan dengan terus terang bahwa saya telah tobat dari
Faham Mu’tazilah dan sekarang saya lemparkan i’tiqad itu seperti saya
melemparkan baju saya ini (sambil melemparkan bajunya) dan setiap saat saya
siap untuk menolak Faham Mu’tazilah yang salah dan sesat itu”.
(Zhumrul Islam IV hal.67)
Sejak saat itu Abu Hasan berjuang melawan Faham Mu’tazilah dengan lisan dan
tulisan, berdebat dan bertanding dengan ulama-ulama Mu’tazilah di mana-mana,
serta merumuskan dan menuliskan dalam buku-bukunya i’tiqad Faham Ahlussunnah
wal Jama’ah, sehingga beliau terkenal sebagai seorang Ulama Tauhid yang dapat
menundukkan dan menghancurkan Faham Mu’tazilah.
Beliau mengarang buku Ushuluddin banyak sekali, di antaranya adalah Ibanah fi
Ushuluddiyanah, Maqalaatul Islamiyiin, Al Mujaz dan lainnya (Imam Zabidi,
pengarang buku Ittihaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin, berkata bahwa
Imam Asy’ari mengarang sekitar 200 buku).
Keistimewaan beliau dalam menegakkan fahamnya dan dalam mengarang adalah dengan
mengutamakan dalil-dalil Al-Quran dan hadits serta mempertimbangkan akal
pikiran, berbeda dengan Faham Mu’tazilah yang mendasarkan pemikirannya atas
akal dan falsafah Yunani dalam hal Ushuluddin, serta berbeda pula dengan Faham
Mujassimah yang mendasarkan fahamnya atas arti lahir Al-Quran dan hadits
sehingga sampai mengatakan bahwa Tuhan bertangan, memiliki wajah/muka, duduk di
atas ‘Arsy dan lain sebagainya yang keliru.
Alhamdulillah, Imam Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari dapat menegakkan faham yang
kemudian disebut sebagai Faham Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu faham yang
diyakini dan di-i’tiqadkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan sahabat-sahabat
beliau.
Adapun Imam Abu Mansur al-Maturidi yang dianggap juga sebagai pembangun
Faham Ahlussunnah wal Jama’ah, nama lengkap beliau adalah Muhammad bin
Muhammad bin Mahmud.
Beliau lahir di sebuah desa di daerah Samarqand (Asia Tengah) yang bernama “Maturid”
dan wafat di sana pula pada tahun 333H (10 tahun setelah Imam Asy’ari wafat).
Beliau berjasa besar dalam mengumpulkan, merinci dan mempertahankan i’tiqad
Ahlussunnah wal Jama’ah seperti Imam Asy’ari.
Hingga sekarang makam beliau ramai diziarahi kaum muslimin.
Dunia Islam sejak saat itu menganggap bahwa kedua Imam ini adalah pembangun
Faham Ahlussunnah wal Jama’ah.
Pada tahun-tahun dan abad berikutnya banyak bermunculan ulama-ulama besar
Ahlussunnah wal Jama’ah yang menyebarluaskan faham-faham Asy’ari dan Maturidi,
antara lain adalah :
- Imam
Abu Bakar al-Qaffal (wafat th 365H)
- Imam
Abu Ishaq al-Asfaraini (wafat th 411H)
- Imam
al-Hafizh al-Baihaqi (wafat th 458H)
- Imamul
Haramain al-Juwaini (wafat th 460H)
- Imam
al-Qasim al-Qusyairi (wafat th 465H)
- Imam
al-Baqilani (wafat th 403H)
- Imam
al-Ghazali (wafat th 505H)
- Imam
Fakhruddin ar-Razi (wafat th 606H)
- Imam
Izzuddin bin Abdussalam (wafat th 660H)
- Sheikhul
Islam Sheikh Abdullah as-Syarqawi (wafat th 1227H) pengarang buku tauhid
terkenal yaitu “Syarqawi”.
- Sheikh
Ibrahim al-Bajuri (wafat th 1272H) pengarang buku tauhid “Tahqiqul Maqam
fi Kifayatil A’wam” dan buku “Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatut Tauhid”.
- Al-Allamah
Sheikh Muhammad Nawawi Bantan (wafat th 1315H) seorang ulama Indonesia
yang mengarang buku tauhid “Tijanud Darari”.
- Sheikh
Zanal Abidin bin Muhammad al-Fathani yang mengarang buku tauhid “Aqidatun
Najiin fi Ushuluddin”.
- Sheikh
Husein bin Muhammad al-Jasar at-Thalabilisi, pengarang buku tauhid
terkenal “Hushunul Hamidiyah”.
Satu hal yang patut diketahui juga adalah pada umumnya dunia Islam
menganggap bahwa dalam furu’ syari’at (fiqih) yang benar adalah fatwa Imam
Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, dan dalam Ushuluddin yang
sesuai dan yang benar sesuai dengan Al-Quran dan hadits adalah fatwa yang
dikeluarkan oleh Faham Ahlussunnah wal Jama’ah.
Apa itu Ahlussunnah wal Jama’ah?
Arti Ahlussunnah adalah Penganut Sunnah Nabi. Arti wal Jama’ah adalah Penganut
i’tiqad sebagai i’tiqad Jama’ah Sahabat-Sahabat Nabi.
Faham Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Faham yang menganut i’tiqad sebagai
i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat Beliau.
I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu telah terdapat dalam Al-Quran dan dalam
Sunnah Rasul secara terpencar-pencar, belum tersusun rapi dan teratur, tetapi
kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin
yang besar, yaitu Sheikh Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari.
Karena itu ada orang yang memberi nama kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
dengan kaum Asya’irah.
Dalam buku-buku Ushuluddin biasa dijumpai perkataan Sunni sebagai
kependekan dari Ahlussunnah wal Jama’ah dan pengikut-pengikutnya dinamai Sunniyun.
Di dalam buku ‘Ihtihaf Sadatul Muttaqin’ karangan Imam Muhammad bin Muhammad
al-Husni Az-Zabidi, yaitu buku Syarah dari Ihya Ulumuddin disebutkan bahwa
apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, maka maksudnya adalah orang-orang
yang mengikut rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Mansur al-Maturidi.
Abu Mansur al-Maturidi adalah seorang ulama Ushuluddin juga yang faham
dan i’tiqadnya sama dengan Asy’ari.
Sudah menjadi adat istiadat dalam dunia Islam, bahwa hukum-hukum agama yang
digali dari Al-Quran dan hadits oleh seorang Imam maka hukum itu dinamai
“Madzhab”.
Hasil ijtihad Imam Hanafi dinamai Madzhab Hanafi, hasil ijtihad Imam
Maliki disebut Madzhab Maliki, ijtihad Imam Syafi’i dinamai Madzhab
Syafi’i dan hasil madzhab Imam Ahmad bin Hanbal dinamai Madzhab Hanbali,
walaupun pada hakekatnya semuanya adalah agama Allah SWT yang termaktub secara
tersurat dan tersirat dalam Al-Quran dan hadits.
Begitu pula dalam i’tiqad, hasil galian dari Al-Quran dan hadits oleh Imam Abu
Hasan al Asy’ari dinamai Madzhab Asy’ari atau Faham Asy’ari, walaupun
pada hakekatnya Imam Asy’ari hanya menggali, merumuskan, memfatwakan, menyiarkan
dan mempertahankan apa yang sudah ada dalam Al-Quran dan hadits, serta apa yang
sudah di-i’tiqadkan oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat Beliau.
Buku-Buku Referensi di Lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah
(selain Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW)
- Kitabul
Arba’in fi Ushuliddin - Imam al-Ghazali
- Asma’
was Shifaat - Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thaher al-Bagdadi
- Kitabus
Sunnah - Imam Abdul Qasim Hibbatullah bin Hasan at-Thabarai Allakai
- Tadzkiratul
Qusyairiyah - Imam Abu Nashar Abdurrahim bin Abdul Karim al-Qusyairi
- Al-Madkhalul
Ausath Ila Ilmil Kalam - Imam Abu Bakar Muhammad bin Hasan bin Faurak
- Al-Iqdus
Shafi - Imam Abdul Qasim Abdurrahman bin Abdusshamad al-Iskafi an-Nisaburi
- Umdtul
‘Aqaid wal Fawaid - Imam Yusuf bin Dzu Nas Al-Fondlai al-Maliki
- I’tiqad
Ahlussunnah wal Jama’ah - Imam Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini
- I’tiqad
Ahlussunnah wal Jama’ah - Imam Abdul Qasim Abdul Karim dan Hazin
al-Quraisyi
- Lam’ul
Adillah fi Qawa’id ‘Aqa’id Ahlussunnah - Imamul Haramain
- Syarhil
Kubra - Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi
- Hidayatul
Murid Syarah Jauhartut Tauhid - Burhan al-Laqani
- Hasyiah
Ummil Barahin - Syihab Ahmad bin Muhammad Alganimi
- Al-’Aqidah
- Imam Abi Ishak as-Sirazi
- Al-’Aqidah
- ‘Izzuddin bin Abdussalam
- Asrarut
Tanzil - Fakhrur Razi
- Tabyiin
Kizbul Muftari - Ibnu ‘Asakir
- Ta’wilul
Musytabihaat - Syamsuddin Ibnul Luban
- Syarah
‘Aqidah Ibnul Hajib - As-Subki
- Syarah
Tijanuddari - Syeikh Ibrahim al Bajuri
- ‘Aqidatun
Najiin fi Ilmi Ushuliddin - Sheikh Zainal ‘Abidin al-Fathari
- Tuhfatul
Murid Syarah Jauhartut Tauhid - Syeikh Ibrahim al-Bajuri
- Sakaki
Syarah Huda-Huda - Imam Syarqawi
- Al-’Itiqad
- Imam Baihaqi
- Kifayatul
‘Awam - Sheikh Mohammad al-Fadhali
- Al
Bajuri (Pensyarah Kitab Sanusi) - Ibrahim al-Bajuri
- Ummul
Baraahim - Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi
- Jauhartut
Tauhid - Burhanuddin Ibrahim bin Harun al-Aqani
- Badul
Amali - Sirajuddin Ali bin Utsman al-Usyi
- Al-Aqaidun
Nasafiyah - Sheikh Namar bin Muhammad an-Nasafi
- Risalah
fi Ilmittauhid - Imam Ibrahim al-Bajuri
- Hushunul
Hamidiyah - Hasan Muhammad at-Tharabilisi
- Bahrul
Kalam - Abu Mu’in an-Nasafi
- Syarqawi
Syarah Sanusi - Sheikhul Islam as-Syarqawi
- dan
lain-lain
Sumber : I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, KH Siradjuddin ‘Abbas